Cerita Tentang Waktu

Sebelumnya aku ga pernah tahu dari mana asal mula pemikiran ini, aku hanya terus berpikir dan berpikir seolah hanya aku yang ada di dunia ini yang membutuhkan pikiran dan seolah hanya aku saja yang bisa berpikir. Tentang waktu, yang katanya akan bisa membuktikan segalanya, tentang waktu yang katanya akan bisa menyembuhkan dan tentang waktu yang katanya akan bisa membawa kita pada kerelatifan.

Aku sudah hampir satu tahun lamanya menikah dan menyandang gelar baru kebangsawanan di tengah masyarakat jomblo sepantaranku dengan sebutan istri.

Sangat menyenangkan menjadi istri, apalagi jika suamiku adalah suamiku yang sekarang ini. Aku sangat bersyukur Allah sangat baik padaku dimana aku diberikan sesosok suami yang sangat mencintaiku dan kucintai

Bagaimana tidak, diantara bayaknya kemalangan hidup yang sudah aku lalui selama ini, tiba-tiba eh tidak tiba-tiba juga seharusnya, karena kami sudah kenal sejak lama, akhirnya dia melamarku dan menikahiku dalam jeda yang singkat. Tahun 2017 adalah tahunku, aku bahagia disepanjang hari di tahun itu.

Pernikahan ini adalah bentuk lembar angan-anganku yang mulai menjadi realita, walaupun tidak sama persis tapi ternyata menikah membuatku percaya bahwa memang kita tidak bisa hidup sendiri di dunia ini, dengan punya pasangan segalanya lebih mudah dan indah, tidak selamanya tapi seringnya.

Aku melihat sosok baru di kehidupanku, di belakangnya lalu turut satu persatu memasuki beranda hidupku dan mulai duduk-duduk di situ. Aku senang menjadi bagian dari kehidupan orang lain, aku senang keluarga suamiku menerimaku dengan baik.

Sosok baru yang selalu aku bangunkan pagi hari dan mengimamiku hampir disetiap waktu solat jika dia sedang tidak di kantor atau di masjid, sosok baru yang menjadikanku mau tidak mau untuk memasak dan menyajikan makanan yang sehat. Sosok baru itu sangat mengubah kehidupanku

Kadang aku merasa terlalu dimanja hingga aku minta padanya hal-hal yang tidak terlalu penting tapi kadang diturutinya juga. Aku merasa diperlakukan seperti anak kecil dan kadang dia pun seperti itu. Kami berdua seperti belum dewasa, tapi aku tau dia sangat bertanggungjawab terhadapku.

Suamiku adalah orang lain yang mau mengurusiku, orang yang tidak ada hubungan dengan keluargaku tapi mau jadi kepala keluarga, makasih ya ! sebenarnya jika ada ucapan yang terbaik selain ucapan cinta pada suamiku tak lain adalah ucapan terimakasih untuk ini itu yang tak terhitung lagi.

Dan yang kupikirkan akhir-akhir ini adalah sang waktu yang kehadirannya setiap saat tapi katanya belum tepat, entahlah kenapa belum tepat, apakah sang waktu tidak belajar? Jika ada tidak nya sesuatu ditentukan oleh waktu maka aku akan menjadi orang yang selalu menunggu.

___bersambung___

You may also like

#SR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *