Cerita Liburan di Yogyakarta

Haaaii bagi temen-temen yang follow aku di instagram atau ikuti whats app story-ku pasti udah tau bahkan enek kali ya kalau aku itu pamer terus di kedua socmed alay itu bahwasanya akoh lagi liburan di Jogjaaaa

Haha alay yo ben

Hello guys inilah kisahku dolan di Jojga breng keluarga tercintah :3

-_______________-

Tulisan di atas itu dibajak sama suamiku ya teman-teman, jadi harap maklum wkwkwk. Tapi bener sih beberapa hari yang lalu aku emang spam di IG story dan WA story dikarenakan hasrat yang tinggi untuk membagikan momen kepada followers-ku yang tidak seberapa hahaha. Cara baru menikmati momen di jaman now adalah dengan membagikannya di social media, bagi yang setuju pasti ngangguk-ngangguk, bagi yang nggak setuju paling yaaa hmm males baca lanjutan cerita ini, eh jangan males dulu, karena aku gak bakal bahas soal bagi-membagikan momen di social media tapi aku mau cerita tentang liburanku di Jogja wekeend kemaren yeeaaayy 😀

Jadi awal mula tercetus ide liburan ke Jogja adalah beberapa minggu setelah aku pindah ke Jakarta, terasa sumpek, bosen, kangen keluarga dan pengen liburan. Terutama kalo lihat suami pulang kerja dan nampak murung, lelah, lemas, lesu seperti tanda-tanda programmer yang belum solved bugs-nya wakakkaka. So, aku bilang ke Pak Bos kalo pengen liburan euy, trus aku bilang juga ajak keluarga aja biar rame, suami ya cuma bilang ‘yaudah tapi kamu yang urus ya’ (seperti biasa soal ginian emang aku paling demen dah). Akhirnya beberapa kali konsul ke keluarga soal tanggal yang pas buat ke Jogja, dapet deh tanggal 24-26 November 2017. Trus aku mulai cari-cari penginapan yang cocok sesuai budget dan fasilitas.

23844534_354625178282647_8687336146091695004_n
*[TEASER] Liburan keluarga di Jogja :D

Continue Reading

Belajar Dewasa dari Membaca Novel

Hai hai hai, aku udah balik  lagi  ke Jakarta nih setelah seminggu lebih pulang kampung ke Semarang (baca: Boja). Pulang kampung pasti membawa efek trauma kecil pada psikis setiap manusia, manusia dewasa. Karena yang kutahu anak kecil belum mengerti betapa beratnya meninggalkan kampung halaman, atau dalam kasus bagi mereka kampung halaman mereka adalah tanah perantauan bagi orang tuanya. Entahlah, fakta itu aku temukan di kereta api Menoreh yang membawaku 3 hari yang lalu dari Semarang. Sepertinya namanya Aldo, dan teman video call di seberang sana bernama Alif. Mereka mungkin anak-anak seumuran dengan anak kelas 4-5 SD. Sedari aku perhatikan sejak stasiun Pekalongan mereka asik mengobrol melalui video call, membahas rencana main mereka setibanya Aldo di rumah pukul 5 sore hari itu. Sedangkan kulihat Ibu setengah baya yang duduk disampingnya tidak segembira Aldo. Apakah Ibu itu orang tua yang berbeda konsep kampung halaman dengan anaknya? Nggak tau juga. Apakah yang Ibu itu rasakan sama dengan yang aku rasakan? Nggak tau juga.

Rasanya munafik kalo aku bilang tidak menyukai Jakarta sedangkan suamiku bekerja di kota ini dan memberiku jalan rezeki dari perusahaan yang menambatkan eksistensinya di Ibukota. Maka aku akan berusaha berdamai denganmu Jakarta ! Semoga dengan pimpinan baru, Jakarta bisa menambahkan list apa-yang-aku-sukai-dari-Jakarta selain Suami dan koneksi internet yang stable and sustainable.

Sampai di kalimat ini mungkin kalian belum menemukan relevansi cerita ini dengan judul di atas. Akupun nggak tau ini kenapa bisa bahas sampai sini, tapi ini yang aku suka dari menulis blog  pribadi, aku bisa menuliskan apapun yang aku mau, dan memberi judul sesuai keinginanku.

Continue Reading