Enjoy Your First Thing

Saya pernah menuliskan cita-cita saya sebagai seorang penulis ketika masih duduk di bangku SMA. Setiap ada kesempatan untuk membubuhkan inisial, selalu saya tuliskan dengan (Hauril Maulida Nisfari -sse roht ua eht-) dimana deretan huruf aneh di belakang nama saya adalah tulisan (the authoress : penulis) yang dibalik dengan modifikasi se-catchy mungkin. Lama-kelamaan, cita-cita itu memudar seiring perkembangan jaman dan pergaulan *halah. Hingga pada akhirnya menjadi Engineer adalah jalan hidup saya. Saya bersyukur punya hasrat untuk menulis dan membaca yang kuat, ini tak lepas dari warisan Ayah saya yang hobi membaca dan menulis hehehe. Menjadi penulis bukanlah cita-cita pertama saya, ada banyak deretan cita-cita yang berubah tiap saat ketika saya masih SD sampai SMA. Saya pernah pengen jadi pramugari, namun pertumbuhan tinggi badan tidak memadai dan minus mata yang kurang ajar banyaknya. Pernah pengen menjadi Dokter, tapi ternyata terlahir jadi orang yang jijikan dan mual lihat darah. Banyak cita-cita keren lainnya yang satu persatu gugur dengan berbagai alasan dan kendala. Hingga yang saya tau, pekerjaan saya saat ini adalah yang saya jadikan cita-cita. Sounds sad? No, I think is better to know what you really need and then make it better as your dream. Bingung ya? Menurut saya sih, saya sampai di pekerjaan saat ini adalah takdir Allah. I never plan to be a programmer. God did it to me. Yang saya butuhkan sekarang adalah membuat cita-cita di jalan Allah. Saya udah jadi programmer, jadi cita-cita saya adalah work at Silicon Valley, become a Google representative, built my own startup or something like that lah *EnglishSingaporeModeOn. Kayaknya lebih mudah seperti itu sih daripada di usia yang setua ini masih mikirin cita-cita yang ga tau mau jadi apa hahhaa.

We always know, what (when) is the first thing in our live, but We never know what (when) the last. Kita tau kapan pertama kita belajar jalan (*iya, Ibu kita yang tahu), tahu kapan kuliah pertama kita, kapan pertama kita ke suatu tempat, kapan pertama kita jatuh cinta *eeaak, dan kisah-kisah pertama yang lainnya. Tapi kita ga pernah tau kapan suatu hal itu menjadi yang terakhir, termasuk kapan saat terakhir kita menghembuskan nafas. Huft *mulai merinding. Hal pertama kebanyakan adalah euphoria, bukan kenyataan. Kita sering terlalu excited dan belum menemukan normalnya. Teringat satu minggu yang lalu, saya bersama kawan kantor, lebih tepatnya coach saya, yang inisial namanya Putra, akan belajar bareng dan menyelesaikan task (saya) yang sebenarnya sudah telat deadline. Kemudian kami mencari tempat nongkrong yang enak dan ada colokannya (you know what i mean, as a programmer, the first thing that must be considered, before you choice a hangout place is “colokan” availability. Kayak mandatory gitu *ealaah bahasanya buuk), karena kebetulan hari itu weekend dan jam makan siang, tau dong gimana penuhnya CL. Jadi tempat makan dan nongkrong-nongkrong kebanyakan sudah penuh oleh muda mudi, Akhirnya, pilihan terakhir cuma Starbucks, yang lega dan ada colokannya. Saya baru pertama kali masuk Starbucks, mampu sih mampu buat beli kopi disitu, tapi apakah tidak lebih baik minum coffeemix aja dan uang sisanya ditabung buat biaya nikah *eeakk. Setiap kali diajak ke Starbucks sama kawan, saya sering nolak, Mas Agung juga pernah nawarin tapi saya gamau juga dan kurang tertarik. Barulah kemarin itu saya akhirnya mau dengan pertimbangan tempatnya enak dan slot colokannya masih ada. 

Continue Reading

Being Mature

Orang-orang di usia sepantaran dengan saya, kini mulai menemukan jati dirinya. Ada yang sudah benar-benar paham ada juga yang mengikuti arus seperti layang-layang putus. Tak tentu arah. Menjadi sering bimbang dan akhirnya ditemukan oleh takdir yang dirinya sendiri tidak menghendaki. Sebenarnya penentuan nasib seorang remaja itu dimulai dari hari dia menentukan mau kuliah dimana, jurusan apa dan berteman dengan siapa. Banyak dari teman-teman saya yang mengaku salah jurusan, salah ambil keputusan dan ada juga yang mengkambing-hitamkan orang tua mereka atas pilihan jurusan kuliah yang bikin mereka pusing setengah mati. Karena memang hakekat manusia adalah mempertahankan dirinya, maka bila ada yang tidak sesuai, dia akan menyalahkan apapun selain dirinya.

jockey-s-ridge-1-family-flying-kites-with-sunset-(1)

Continue Reading