Belajar Dewasa dari Membaca Novel

Hai hai hai, aku udah balik  lagi  ke Jakarta nih setelah seminggu lebih pulang kampung ke Semarang (baca: Boja). Pulang kampung pasti membawa efek trauma kecil pada psikis setiap manusia, manusia dewasa. Karena yang kutahu anak kecil belum mengerti betapa beratnya meninggalkan kampung halaman, atau dalam kasus bagi mereka kampung halaman mereka adalah tanah perantauan bagi orang tuanya. Entahlah, fakta itu aku temukan di kereta api Menoreh yang membawaku 3 hari yang lalu dari Semarang. Sepertinya namanya Aldo, dan teman video call di seberang sana bernama Alif. Mereka mungkin anak-anak seumuran dengan anak kelas 4-5 SD. Sedari aku perhatikan sejak stasiun Pekalongan mereka asik mengobrol melalui video call, membahas rencana main mereka setibanya Aldo di rumah pukul 5 sore hari itu. Sedangkan kulihat Ibu setengah baya yang duduk disampingnya tidak segembira Aldo. Apakah Ibu itu orang tua yang berbeda konsep kampung halaman dengan anaknya? Nggak tau juga. Apakah yang Ibu itu rasakan sama dengan yang aku rasakan? Nggak tau juga.

Rasanya munafik kalo aku bilang tidak menyukai Jakarta sedangkan suamiku bekerja di kota ini dan memberiku jalan rezeki dari perusahaan yang menambatkan eksistensinya di Ibukota. Maka aku akan berusaha berdamai denganmu Jakarta ! Semoga dengan pimpinan baru, Jakarta bisa menambahkan list apa-yang-aku-sukai-dari-Jakarta selain Suami dan koneksi internet yang stable and sustainable.

Sampai di kalimat ini mungkin kalian belum menemukan relevansi cerita ini dengan judul di atas. Akupun nggak tau ini kenapa bisa bahas sampai sini, tapi ini yang aku suka dari menulis blog  pribadi, aku bisa menuliskan apapun yang aku mau, dan memberi judul sesuai keinginanku.

Continue Reading

Note from Indonesia Ruby Conference 2017 Jakarta

Hello everyone! How are you? I hope you are healthy and happy as always. I didn’t feel well for these 3 weeks because maybe I’m tired or I missed my mom hahaha. But I think it began since 3rd October, when I drank my husband’s coke … and BAAM!!! I got sick. At the first time I just have ‘sariawan’ in my tongue, then I got inflammation on my throat, then I feel so dizzy and cough. Already visited 2 doctors, still not full recovery, but now I’m on normal activity. So, wish me get well soon yaa :)

Okay, I will not tell you about sickness because I have more interesting story on Ruby Conference 2017 Jakarta. This was my second time I attended a conference, before that in July I also came for Geekcamp Conference in Jakarta too. Ruby Conference is 2 day event, 6th-7th October 2017 in Gojek Headquarter, Pasaraya Blok M, South Jakarta. This event was held by id_ruby community Jakarta and supported by some companies who use Ruby as well, like Gojek, Bukalapak, Midtrans, Cookpad etc. I don’t know how to get the ticket, my husband prepare all for me, so I just came and enjoy. My husband also one of committee on this event btw, but it’s not important hahaa.

WhatsApp Image 2017-10-19 at 21.08.32
*[TRAILER] speakers and participants of Ruby Conference 2017 Jakarta, spot me where I am ? :p

My husband and I went early morning on Friday 6th October to Pasaraya Blok M from our boarding house by motorcycle. We arrived at registration venue around 8.30 am, but the registration still closed. So, I took a few walk around while waiting for registration to be opened, since my husband perform his duties to prepare registration of participants.

Continue Reading

Cerita di Jakarta

Kenapa aku harus tidur sebelum suamiku tidur? Karena aku bakalan susah tidur kalau dia udah tidur, suara dengkurannya ga berenti-berenti, itulah kenapa sampe sekarang aku masih nulis postingan di blog ini wkwkwk. Kalau ada yang nanyain gimana kabarku sekarang? Alhamdulillah baik, suamiku juga alhamdulillah sehat wal afiat. Kalau ada yang nanyain kegiatanku saat ini, ini aku lagi nulis blog hehehe *garing ya sumpah. Saat ini aku lagi menetap di Jakarta, kegiatanku saat ini lebih banyak ngurus suami dan belajar ruby dan rails. Hmm okeoke kayaknya banyak yang pengen tau ceritaku selama di Jakarta ya, *pede aja. Yaudah aku ceritain dehh..

Here We Go !!! Jakarta, kota yang dulu sering aku kunjungi sebagai tempat tes atau wawancara kerja, tempat yang sering aku jadikan destinasi di tiket kereta, tempat yang menyimpan beribu asa menggebu seorang sarjana yang ingin sukses di dunia kerja. Kini Jakarta sudah ada di dekapan dan aku menjadi salah satu makhluk hidup yang turut serta menjadi saksi ke-hiruk-pikuk-an Jakarta. Kesannya aku pengen banget ya tinggal di Jakarta, padahal engga juga sih, malah sebenernya pengen balik ke Semarang 😐 . Yaaaap udah dua minggu aku menetap di Jakarta, tepatnya di daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan. Tak lain dan tak bukan aku harus menemani suamiku yang sudah meningkat level ke-setress-an nya  dalam hal kerja, dan butuh pendamping yang sekedar bikinin teh pas dia pulang kerja atau ngajak boros dengan makan diluar seminggu berturut-turut hahaha.

Alasan lain aku akhirnya mau diajak tinggal di Jakarta adalah ingin mandiri. Tsaaaah, gaya banget yak. Karena sejak aku lahir sampe setelah nikah 4 bulan aku masih bergantung terus dengan Ibuku, khususnya urusan makan. Sekarang aku harus belajar masak dan berani menghadapi cipratan minyak-minyak panas demi menyiapkan bekal suami ahihihii. Untungnya suamiku dalam fase pengen diet yang sebenernya ga terlalu niat banget sih dietnya, kadang makannya bener kadang engga, jadi kalo aku siapin makanan khususnya sayur ya cuma aku rebus tanpa bumbu apapun.

WhatsApp Image 2017-09-28 at 17.11.51
*hasil masakanku untuk bekal suami, enak lhooo
Continue Reading

Cerita Liburan di Kuta

Haloo haloo, gak kerasa aku udah seminggu tinggal di Jakarta lhoo. Satu kata, eh dua kata untuk Jakarta : ‘panas banget’. Tapi kali ini aku ga mau nyeritain tentang Jakarta dulu, aku mau throwback masa-masa indah ketika di Bali hahaha. Yep, ngelanjutin Cerita di Ubud, kali ini aku mau nyeritain pengalaman aku dan suami liburan di Kuta 😀

Kuta ini common banget buat wisatawan domestik, beda dengan Ubud yang kebanyakan pengunjungnya bule-bule. Kami stay di Kuta selama 3 malam, kayaknya lama ya tapi kerasanya bentar banget dah. Setelah kami checkout dari hotel di Ubud dan menempuh perjalanan 1,5 jam ke Kuta, akhirnya kami tiba di hotel Bliss Surfer. Aku udah pernah nginep di hotel ini pas acara KKL bareng Elektro 2010, trus aku bilang ke suami kalo nginep di hotel ini tuh enak, soalnya lumayan deket sama pantai Kuta dan Legian, fasilitasnya juga bagus dan anak muda banget pokoknya. Kalo kalian suka surfer-surfer gitu hotel ini cocok banget deh, soalnya emang temanya surfing gitu. Oh iya hotel ini juga pernah masuk jalan-jalan men lhoo, tempat nginepnya Jebraw sama Nayya. Lah malah ngiklan saya 😀

*penampakan hotel Bliss Surfer dari luar, bagian dalem lg berantakan soalnya wkwkw
Continue Reading

Cerita Liburan di Ubud

Hallo again, kembali ga bisa tidur setelah kebangun jam 11 malem tadi. Sebenernya mulai keganggu sama pola tidur yang ga teratur gini, tapi yaa gimana dong kalo emang ga bisa tidur ya udah ga usah tidur wkwk. Oke kali ini aku mau cerita lanjutannya Cerita Liburan di Bali, post ini nyeritain tentang liburan kami hari kedua dan ketiga di Ubud, yeaaaa Ubuuudd !!!

Jadi sebenernya banyak tempat wisata yang ada di Ubud yang udah masuk list kami untuk dikunjungi, taapi karena waktu yang terbatas jadi kami hanya bisa mengunjungi beberapa tempat aja tapi aku pikir udah cukuplah untuk merepresentasikan Ubud, asiiik. Kami keluar hotel sekitar pukul 8 pagi setelah browsing-browsing ga jelas cari persewaan motor di sekitar Ubud, karena malam sebelumnya kami nyoba nyari di sekitar hotel tapi pada full booked semua. Akhirnya kami nelpon CS hotel dan disarankan buat nyari di sekitara depan hotel, dan ternyata bener ada yang nyewain motor doong :v Biaya sewa 60rb perhari udah include helm dan mantel, dan dimulailah petualangan kami di Ubud uhuuuuyyy.

*penampakan luar hotel Grand Sunti Ubud, abaikan kaki suami aku ya wkwk
Continue Reading

Cerita Liburan di Bali

Hai guys, sekarang udah tengah malam tapi aku masih seger banget nih efek tadi tidur sore dan nongkrong ngopi sama anak-anak. Yah daripada bingung mau ngapain, karena buat belajar kayaknya otak udah mulai capek juga, mendingan aku cerita tentang pengalamanku liburan ke Bali sama suamiku bulan Mei kemaren. Hahaha, udah basi ya ceritanya tapi gapapa deh sapa tau ada yang butuh referensi buat liburan ke Bali juga. Okay, jadi aku sama suamiku emang udah rencana dari awal mau nikah kalo pengen honeymoon ke Bali. Bali itu mainstream banget sebagai destinasi buat liburan atau honeymoon tapi ya emang kami pengen aja ke sana, pengen mengukir kenangan indah berdua, aseek. Soalnya suamiku pernah menetap di sana selama 2 bulan dan kayaknya belum puas menjelajahi Bali, jadilah dia pengen balik lagi ke Bali bareng aku hihiihi.

Dari awal persiapan menikah, liburan ke Bali malah jadi hal yang lebih menarik buat diurus daripada prosesi pernikahan itu sendiri. Eeemm gimana ya di tengah-tengah kesibukan urus undangan, dekor, rias dan disambi masih kerja juga, nyiapin liburan ke Bali jadi hiburan tersendiri buat aku. Suami dari awal nyerahin semua pilihan ke aku, dia cuma tinggal setuju-setuju dan bayar-bayar hahaha. Jadi dari milih hari, maskapai, hotel, akomodasi dll aku sendiri yang nyari, abis udah ketemu baru deh dia yang memutuskan wkwkw. Awalnya kepikiran buat ikut paketan liburan aja sih, disamping lebih hemat kayaknya juga ga ribet gitu nyiapinnya. Tapi karena alasan pengen berduaan aja menikmati Bali, akhirnya kami putuskan buat siapin semuanya sendiri.

Continue Reading

Tunggu Aku

Sementara hanya bisa berkata sebentar, beri aku waktu untuk semua ini. Tubuhku sudah ingin bergerak tapi pikiranku masih melayang-layang di udara. Apakah aku tipikal orang yang seperti ini? Aku rasa aku hanya berubah akhir-akhir ini. Menjadi sangat pendiam terhadap perubahan dan melamuninya dengan kesedihan. Seperti inikah yang dinamakan harus meninggalkan zona nyaman? Tapi bahkan aku belum cukup nyaman di tempat sebelumnya. Sekarang aku bingung tentang keingianku sendiri. Masa aku harus bertanya pada orang lain tentang itu? Serumit inikah menjadi orang dewasa? Aku harus memutuskan dengan tepat, untuk kebaikanku, tidak bisakah aku bergantung saja pada Ibu? Hei, Aku sudah 25 tahun, seharusnya aku memang sudah mampu memutuskan apapun ! Tapi inilah salah satu keputusan besar yang aku buat sendiri. Mungkin aku terlalu takut untuk berpisah, dengan teman-teman, sahabat dan duniaku. Aku telah berkelana begitu jauh dengan mereka, hingga aku enggan beristirahat sejenak. Namun Tuhan menyuruhku lewat satu pria, suamiku, yang dengan sabar menungguku di tengah perjalananku, untuk istirahat dan mengambil jalan pintas lain dengan berjuang bersama. Lelaki itu dengan tatapan matanya saja bisa meragukanku yang selama ini asik berkelana sendiri. Mengajakku bersamanya, ingin membuatku tidak lelah dan menerima apapun yang kuinginkan. Dia berjuang memantapkan hatiku agar mengandalkannya. Yang kusadari sampai saat ini, dia selalu menepati janjinya. Kamu hanya cukup menunggu sebentar saja untuk aku kembali menjadi diriku, tunggu aku.

Continue Reading

Midnight Random Story

Hallo, Alhamdulillah akhirnya punya waktu luang dan banyak niat di dini hari ini buat sekedar menuliskan hal-hal yang sudah numpuk di kepala. Hemph ! Saya sedang di Surabaya sampai akhir minggu ini, untuk urusan kerja. Sebenarnya ini kali kedua saya tinggal di Surabaya setelah sebelumnya di bulan November sampai Desember saya sudah menetap di sini. Surabaya cukup bikin saya betah, yah mungkin faktor lucky saya dapat customer yang se-level joke nya. Jadi kerja di sini ga tegang-tengang amat, banyak becandanya gitu, jadi enak gitu kerjanya.

Okay okay, biarkan saya cerita banyak hal, mumpung saya lagi pengen cerita yaa wkwkwk. Beberapa hari yang lalu, tepat pas mau berangkat ke Surabaya, saya sakit, Ibu saya bahkan hampir ga ngijinin saya buat berangkat ke sini. Tapi karena dokter bilang gapapa, maka keinginan Ibu saya itu akhirnya ditangguhkan. Namun setelah tiba di Surabaya, saya ga kunjung sembuh, sampai Jum’at minggu lalu saya ijin ga masuk kerja. Baru deh kerasa kalo omongan Ibu is uncontested. Saya banyak ngerasa beruntung punya Ibu yang terkesan cuek sama anak-anaknya. Serah-serah lu dah mau kemana, yang penting bisa jaga diri baik-baik itu aja syaratnya. Ibu saya emang terkenal independent, ga tergantung sama anak-anaknya dan kasih kebebasan dan kepercayaan penuh sama setiap pilihan yang kami pilih. Dari masa kami sekolah dan kuliah Ibu sangat demokratif, ga pernah minta, kamu jurusan ini ya, nanti kamu IP nya 3 ya, nanti kamu yang aktif di kampus ya, nanti kamu sering-sering ikut organisasi sana sini ya. Gak pernah ! blas ! Kaya selama ini saya tuh menalani hidup tanpa tuntutan orang tua gitu lho. Bahkan pas saya ga dapet-dapet kerja (*diulang lagi bahas ini nya ) Ibu ga pernah ngusik-ngusik hidup saya buat sekedar ngedumel, ‘anak udah disekolahin, udah sarjana kok masih nganggur‘ -yang biasa diucapkan tokoh Ibu yang antagonis- . Ga pernah ! Blas ! wkwkw, jadi ya Alhamdulillah deh hidup saya damai sejahtera sentosa bahagia.

Dari Ibu, saya banyak belajar, jadi orang jangan banyak menuntut. Karena tuntutan-tuntutan yang kita berikan ke orang lain banyak yang menjadi beban dan akhirnya bikin berat menjalaninya. Namun saya pikir tuntutan ke diri sendiri malah penting, karena kita tahu apa yang kita inginkan, apa yang kita butuhkan dan semampu apa kita untuk mendapatkannyaExpect more from yourself and less from other. Hal kedua yang saya pelajari dari Ibu adalah jangan suka nyusahin orang. Kalo bisa dilakukan sendiri ya lakukanlah sendiri, saya sering denger Ibu ngomong gini ke saya sejak kami tinggal di rumah hanya berdua. Segala urusan rumah, pasang lampu, pasang gas, keran bocor, pompa air ngadat bisa diperbaiki sendiri. Ibu juga selalu biarin saya berpergian sendiri, ngelatih mental dan otak biar cepat terbisa dengan suasana asing. Alhamdulillah dengan didikan Ibu yang independent itu malah bikin saya gampang mau ngapa-ngapain, ga tergantung sama orang lain dan ga nyusahin orang lain juga.

Kalo ga salah (berarti bener), Ibu pernah bilang gini ke saya, nanti kalo udah nikah jangan banyak nuntut suami, Ibu dulu ga pernah minta tipi, eh tiba-tiba dibeliin tipi, ga pernah minta kulkas, tiba-tiba dibeliin kulkas, ga pernah minta, motor, mobil, rumah, eh tiba-tiba udah dibeliin semuanya. Jadi istri itu yang pengertian dan jangan matre. Sumpah saya kaget donk, Ibu bisa ngomong gitu ke saya wkwkwk, hmm apakah saya ada bibit-bibit istri penuntut dan matre? 😐 mungkin istilahnya bukan menuntut, tapi menyemangati :p

Sudah ya sesi cerita randomnya, sekarang sudah jam 01.37 WIB, waktu nya tidur. See you and good morning !

Continue Reading

Enjoy Your First Thing

Saya pernah menuliskan cita-cita saya sebagai seorang penulis ketika masih duduk di bangku SMA. Setiap ada kesempatan untuk membubuhkan inisial, selalu saya tuliskan dengan (Hauril Maulida Nisfari -sse roht ua eht-) dimana deretan huruf aneh di belakang nama saya adalah tulisan (the authoress : penulis) yang dibalik dengan modifikasi se-catchy mungkin. Lama-kelamaan, cita-cita itu memudar seiring perkembangan jaman dan pergaulan *halah. Hingga pada akhirnya menjadi Engineer adalah jalan hidup saya. Saya bersyukur punya hasrat untuk menulis dan membaca yang kuat, ini tak lepas dari warisan Ayah saya yang hobi membaca dan menulis hehehe. Menjadi penulis bukanlah cita-cita pertama saya, ada banyak deretan cita-cita yang berubah tiap saat ketika saya masih SD sampai SMA. Saya pernah pengen jadi pramugari, namun pertumbuhan tinggi badan tidak memadai dan minus mata yang kurang ajar banyaknya. Pernah pengen menjadi Dokter, tapi ternyata terlahir jadi orang yang jijikan dan mual lihat darah. Banyak cita-cita keren lainnya yang satu persatu gugur dengan berbagai alasan dan kendala. Hingga yang saya tau, pekerjaan saya saat ini adalah yang saya jadikan cita-cita. Sounds sad? No, I think is better to know what you really need and then make it better as your dream. Bingung ya? Menurut saya sih, saya sampai di pekerjaan saat ini adalah takdir Allah. I never plan to be a programmer. God did it to me. Yang saya butuhkan sekarang adalah membuat cita-cita di jalan Allah. Saya udah jadi programmer, jadi cita-cita saya adalah work at Silicon Valley, become a Google representative, built my own startup or something like that lah *EnglishSingaporeModeOn. Kayaknya lebih mudah seperti itu sih daripada di usia yang setua ini masih mikirin cita-cita yang ga tau mau jadi apa hahhaa.

We always know, what (when) is the first thing in our live, but We never know what (when) the last. Kita tau kapan pertama kita belajar jalan (*iya, Ibu kita yang tahu), tahu kapan kuliah pertama kita, kapan pertama kita ke suatu tempat, kapan pertama kita jatuh cinta *eeaak, dan kisah-kisah pertama yang lainnya. Tapi kita ga pernah tau kapan suatu hal itu menjadi yang terakhir, termasuk kapan saat terakhir kita menghembuskan nafas. Huft *mulai merinding. Hal pertama kebanyakan adalah euphoria, bukan kenyataan. Kita sering terlalu excited dan belum menemukan normalnya. Teringat satu minggu yang lalu, saya bersama kawan kantor, lebih tepatnya coach saya, yang inisial namanya Putra, akan belajar bareng dan menyelesaikan task (saya) yang sebenarnya sudah telat deadline. Kemudian kami mencari tempat nongkrong yang enak dan ada colokannya (you know what i mean, as a programmer, the first thing that must be considered, before you choice a hangout place is “colokan” availability. Kayak mandatory gitu *ealaah bahasanya buuk), karena kebetulan hari itu weekend dan jam makan siang, tau dong gimana penuhnya CL. Jadi tempat makan dan nongkrong-nongkrong kebanyakan sudah penuh oleh muda mudi, Akhirnya, pilihan terakhir cuma Starbucks, yang lega dan ada colokannya. Saya baru pertama kali masuk Starbucks, mampu sih mampu buat beli kopi disitu, tapi apakah tidak lebih baik minum coffeemix aja dan uang sisanya ditabung buat biaya nikah *eeakk. Setiap kali diajak ke Starbucks sama kawan, saya sering nolak, Mas Agung juga pernah nawarin tapi saya gamau juga dan kurang tertarik. Barulah kemarin itu saya akhirnya mau dengan pertimbangan tempatnya enak dan slot colokannya masih ada. 

Continue Reading

Being Mature

Orang-orang di usia sepantaran dengan saya, kini mulai menemukan jati dirinya. Ada yang sudah benar-benar paham ada juga yang mengikuti arus seperti layang-layang putus. Tak tentu arah. Menjadi sering bimbang dan akhirnya ditemukan oleh takdir yang dirinya sendiri tidak menghendaki. Sebenarnya penentuan nasib seorang remaja itu dimulai dari hari dia menentukan mau kuliah dimana, jurusan apa dan berteman dengan siapa. Banyak dari teman-teman saya yang mengaku salah jurusan, salah ambil keputusan dan ada juga yang mengkambing-hitamkan orang tua mereka atas pilihan jurusan kuliah yang bikin mereka pusing setengah mati. Karena memang hakekat manusia adalah mempertahankan dirinya, maka bila ada yang tidak sesuai, dia akan menyalahkan apapun selain dirinya.

jockey-s-ridge-1-family-flying-kites-with-sunset-(1)

Continue Reading